LAPORAN PRAKTIKUM
MEKANISASI PERTANIAN
Acara 4
Pengenalan Rice Transplanter dan
Penyemaian Padi
Disusun oleh :
Nama : Romadhona Abdulah Karan
NPM :
E1J014069
Hari/tanggal : selasa ,10 November 2015
Shift
: 10.00-12.00
Co-ass : Bagus Edhi Luwih
LABORATORIUM AGRONOMI
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di
Indonesia cara menanam padi sawah dilakukan dengan tanam pindah. Untuk menuju
usaha peningkatan dapat ditempuh melalui teknologi mekanisme diantaranya mesin
penanam bibit padi bermotor. Oleh karena itu perlu dilakukan uji lapang guna
mengevaluasi kinerjanya pada kondisi sawah diindonesia termasuk analisis
ekonomis berupa biaya operasi dan kelayakan usaha. Dalam rangkaian kegiatan
tersebut survei kepada petani dan tenaga kerja tani tentang budidaya padi
khususnya penanaman padi dan pembibitan secara konvensional yang telah ada
dimasyarakat.
Rice
transplanter adalah alsintan digunakan untuk untuk melakukan pindah tanam bibit
padi pada sawah yang telah siap tanam. Penggunaan alsintan ini dimaksudkan
untuk menghasilkan pola tanam yang teratur dengan waktu yang relatif singkat.
Kapasitas kerja penanaman dari rice transplanter dapat mencapai 5-7 jam/ha atau
setara dengan 25 HOK ( hari orang kerja ),sehingga biaya dan waktu tanam
menjadi sangat efisiensi.
Berbeda
dengan penanaman manual, bibit padi yang akan ditanam harus disemaikan pada
tempat pembibitan yang tidak memungkinkan akar bibit menembus lapisan tanah.
Tujuannya adalah agar bibit dapat diangkat dan disusun pada baki-baki ( trays )
tanpa merusak sistem perakaran bibit dan selanjutnya dapat dipasangkan pada
platform bibit yang terdapat pada rice transplanter. Persemaian dapog merupakan
sistem pembibitan padai ditumbuhkan pada baki-baki pembibitan atau pada
petak-petak pembibitan yang diberi alas plastik.
Persyaratan Lahan dan Bibit
1. Kondisi
Lahan
a. Syarat
agar mesin transplanter dapat berfungsi dengan baik adalah lahan dalam keadaan
melumpur sempurna. Penyiapan lahan agar melumpur sempurna dilakukan dengan 2
kali pembajakan dan diikuti dengan 1 kali penggaruan kemudian didiamkan sekitar
3 hari.
b. Genangi
lahan yang sudah melumpur sempurna setinggi + 2 cm dan diamkan minimal selama 3
hari.
c. Ukur
hardpan tanah yang terbentuk dengan cone index penetrometer atau secara mudah
injak tanah yang sudah siap tanam dan ukur kedalaman kaki yang tenggelam.
Kedalaman ukuran kaki yang tenggelam < 25 cm.
2. Kondisi
persemaian dan bibit
a. Penyemaian
bibit dilakukan dengan kotak persemaian/dapog. Dapog adalah tempat tumbuhnya
bibit padi yang ditanam secara acak dengan cara ditabur pada media tumbuh untuk
disemaikan. Ukuran dapog untuk mesin Jarwo Transplanter mempunyai lebar 18,3 cm
dan panjang sekitar 58 cm. Cara penyemaian dapog dapat dilakukan langsung di
lahan basah (sawah) ataupun di pekarangan rumah.
b. Kebutuhan
benih per dapog persemaian adalah 90-100 gram.
c. Tebal/tanah
media tumbuh yang dibutuhkan untuk persemaian yaitu 2–3 cm
d. Umur
bibit yang dapat ditanam berkisar 15 – 20 hari setelah semai (hss). Tinggi
bibit yang disarankan mencapai 150 – 200 mm.
1.2 Tujuan
Mengenal
komponen-komponen yang terdapat pada rice transpalnter berikut fungsinya dan
menyiapkan bibit padi dengan persemaian dapog.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Kebutuhan
beras sebagai salah satu sumber pangan utama masyarakat Indonesia terus meningkat,
hal ini dikarenakan jumlah penduduk terus bertambah dengan laju peningkatan
sekitar 1,3% per tahun dan adanyaperubahan pola konsumsi dari non beras ke beras.
Berkaitan dengan hal tersebut,pemerintah mentargetkan surplus beras 10 juta ton
pada tahun 2014 dengan maksud untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional yang
akan berdampak positif terhadap stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan
keamanan.Dipihak lain, khususnya di Pulau Jawa terjadi penciutan lahan sawah
akibat konversi lahan untuk kepentingan non pertanian ± 100.000 ha/tahun dan
munculnya fenomena penurunan kesuburan lahan menyebabkan produktivitas padi sawah
cenderung melandai (Badan Litbang Pertanian, 2008).
Kendala lain yang dijumpai di beberapa sentra
produksi padi adalah keterbatasan tenaga kerja dalam usahatani padi terutama
pada tenaga kerja tanam meskipun seluruh areal ahan sawah dapat ditanami namun
tidak tepat waktu. Dalam budidaya padi, salah satu kegiatan yang banyak menyerap
tenaga kerja adalah kegiatan tanam pindah bibit padi. Pelaksana kegiatan tanam
padi di Jawa Tengah pada umumnya adalah tenaga wanita dengan rata-rata usia 54 tahun.
Tenaga kerja dengan struktur umur demikian tidak dapat diandalkan untuk jangka panjang
dan memerlukan regenerasi (Ahmad, 2007).
Di satu sisi minat generasi muda untuk
meneruskan mata pencaharian sebagaimereka lebih memilih bekerja sebagai buruh
dipabrik ataupun di perusahaan-perusahaan non pertanian. Keadaan demikian
tentunya sangat memprihatinkan bagi pemerintah dalam peningkatan ketahanan
pangan. Dampak dari kelangkaan tenaga kerja tanam antara lain mengakibatkan
jadwal tanam sering mundur dan tanam tidak serentak/serempak sehingga berpengaruh
terhadap indeks pertanaman padi, ganguan OPT yang akhirnya berpengaruh terhadap
produksi padi. Penanaman serentak dimaksudkan sebagai upaya untuk memutus siklus
perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT) antara lain wereng coklat, penggerek
batang dan tikus (Baehaqi, 2012).
Tambunan
dan Sembiring (2007)menyatakan bahwa pembangunan pertaniandewasa ini tidak lagi
dapat dilepaskan dariperkembangan teknologi alat dan mesinpertanian. Berbagai
kajian menyimpulkanbahwa alat dan mesin pertanian merupakankebutuhan utama
sektor pertanian sebagaiakibat dari kelangkaan tenaga kerja pertaniandi
pedesaan. Alat dan mesin pertanianberfungsi antara lain untuk mengisi
kekurangantenaga kerja manusia yang semakin langkadengan tingkat upah semakin
mahal,meningkatkan produktivitas tenaga kerja,meningkatkan efisiensi usahatani
melaluipenghematan tenaga, waktu dan biaya produksiserta menyelamatkan hasil
dan meningkatkan mutu produk pertanian (Suparlan, 2011).
Penggunaan
alat dan mesin pertanian pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan
efisiensi, efektivitas, produktivitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban
kerja petani Sejak beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan dan
dikembangkan mesin tanam pindah bibit padi (rice transplanter).
Ricetransplanter adalah mesin penanam padi yangdipergunakan untuk menanam bibit
padi yangtelah disemaikan pada areal khusus(menggunakan tray/dapog) dengan umur
atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah kondisi siap tanam, dan mesin
dirancang untuk bekerja pada lahan berlumpur (puddle) dengan kedalaman kurang
dari 40 cm. Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat
pengapung. Inovasi teknologi rice transplanter berpeluang dapat mempercepat
waktu tanam bibit padi dan mengatasi kelangkaan tenaga kerja tanam bibit padi
pada daerah-daerah tertentu (Taufik, 2010).
BAB
III
METODELOGI
3.1
Bahan dan Alat
1. Sepatu
boot
2. Kertas
A4
3. Pena
4. Pensil
5. Rice
transplanter
6. Mesin
Penyemaian padi
3.2 Prosedur Kerja
Pengamatan rice transplanter
1. Melakukan
pengamatan terhadap rice transplanter yang tersedia
2. Mencatat
komponen-komponen utama yang terkait dengan pengoperasian dan fungsinya
3. Memperhatikan
dan mencatat prosedur menghidupkan mesin dan mematikan rice transplanter
4. Mengisi
lembar pengamatan sesuai dengan hasil yang diamati
Pembibitan
padi dengan sistem dapog
1.
Menyiapkan benih padi sebanyak 0,5 kg
plastik hitam ukuran 1m x 2 m, kerangka
kayu ukuran 0.70 m x 2 m tanah yang halus dan kering,sekam padi dan mesin
penabur benih
2.
Memilih benih padi yang bernas dengan
cara merendamnya kedalam air selama 1 jam dan meniriskan benih yang tenggelam
untuk dijadikan bibit
3.
Membentangkan plastik hitam pada lahan
tempat persemaian yang telah didatarkan
4.
Memasangkan kerangka kayu diatas
bentangan plastik kemudian isi dengan tanah halus diatas plastik hingga
ketebalan 2-3 cm sebagai media pertumbuhan.
5.
Memasukkan benih yang ditiriskan kedalam
bak mesin penabur benih secara merata
6.
Menempatkan kerangka benih kayu sehingga
roda mesin bergerak leluasa sepandang kerangka kayu
7.
Kemudian menjalankan mesin penabur
secara perlahan-lahan
8.
Menutup benih dengan abu sekam padi
hingga ketebalan 0,5 cm
9.
Menyiram permukaan pembibitan dengan air
secukupnya dan menghindari percikan air tidak menyebabkan padi berserakan
10.
Melakukan penyiraman secara rutin hingga
bibit siap tanam ( umur 15-20 hari ) dengan tinggi 15-20 cm
11.
Melakukan pengamatan terhadap bibit padi
yang dihasilkan meliputi ( jumlah bibit/cm ) dan tinggi bibit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
|
No
|
Nama
komponen
|
Fungsi
|
|
1.
|
Sakelar utama
|
Untuk
menghidupkan/mematikan mesin
|
|
2.
|
Tuas kopling utama
|
|
|
3.
|
Tuas pedal gas
|
Untuk mengatur
putaran mesin
|
|
4.
|
Tuas kopling tanam
|
|
|
5.
|
Tuas penyesuaian
kedalaman tanam
|
Untuk mengatur
kedalaman saat menanam
|
|
6.
|
Tuas penyesuaian
pengambilan kedalaman
|
|
4.2 Pembahasan
Dalam
praktikum mekanisasi pertanian pengenalan rice transplanter dan penyemaian padi
secara dapog bahwa kinerja Rice TransplanterPengoperasian rice
transplanterSPW48 C relative mudah dan sederhana.Jumlah tenaga yang terlibat
secara langsunghanya 3 orang terdiri dari satu orang operator atau yang
mengoperasionalkan ricetransplanter, satu orang penyedia/pengangkutbibit dan
satu orang penyulam rumpun yangkosong.Demplot tanam menggunakan
ricetransplanter SPW48 C, menerapkan jaraktanam 30 x 18 cm, kedalaman tanam 3
cm,jumlah bibit 3 bibit/lubang pada kondisi lahansawah kedalaman lumpur lunak
antara 25 – 35cm dan genangan air 2-3 cm, rice transplanterberfungsi baik
dengan rumpun kosong 1,5%dan kapasitas kerja 7,0 jam/ha.
Tingginya
jumlah rumpun yang kosong dan lamanyakapasitas kerja dikarenakan bibit dalam
dapogkurang rapat dan operator rice transplanterbelum terampil. Kapasitas kerja
ricetransplanter dipengaruhi oleh kondisi lahan,luas petakan dan keterampilan
operator.Berdasarkan biaya operasional dan keuntunganyang diperoleh, investor
berani menjual jasapenyediaan bibit dan tanam masing-masingdengan harga
Rp5.000/dapog danRp600.000/ha. Bagi petani harga jual tersebutmasih lebih murah
dibandingkan dengan biayapembuatan persemaian dan tanam secarakonvensional.
Ditinjau dari aspek tenaga kerja,produktivitas, kualitas tanam kinerja
ricetransplanter lebih baik dibandingkan dengan cara tanam konvensional.
Keunggulan rice
transplanterdiantaranya:
a. produktivitas
tanam cukup tinggi 6 jam/ha,
b. jarak
tanam dalam barisandapat diatur dengan ukuran 12, 14, 16, 18, 21 cm,
c. penanaman
yang presisi (akurat),
d. tingkat
kedalaman tanam dapat diatur dari 0,7 -3,7 cm (5 level kedalaman),
e. jumlah
tanaman dalam satu lubang berkisar 2 – 4tanaman per lubang dan
f. jarak
dankedalaman tanam seragam sehinggapertumbuhan dapat optimal dan seragam.
Disamping
keunggulan, rice transplantermempunyai beberapa kelemahan diantaranya:
a. jarak
antar barisan (gawangan 30 cm) tidakdapat diubah,
b. tidak
bisa dioperasionalkan pada kedalaman sawah lebih dari 40 cm,
c. untuk
membawa mesin ke sawahatau ketempat lain diperlukan alat angkut,
d. perlu
bibit dengan persyaratan khusus dan
e. harga
masih relatif mahal sehingga tidakerjangkau petani.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari praktikum dapat disimpulkan
bahwa komponen- komponen rice
transplanter terdiri :
a.
Sakelar utama berfungsi sebagai
b.
Tuas kopling utama
c.
Tuas pedal gas
d.
Tuas kopling tanam
e.
Tuas penyesuaian kedalaman tanam
f.
Tuas penyesuaian pengambilan kedalaman
Dalam mempersiapkan
penyemaian padi secara dapog yaitu :
1.
Menyiapkan benih padi sebanyak 0,5 kg
plastik hitam ukuran 1m x 2 m, kerangka
kayu ukuran 0.70 m x 2 m tanah yang halus dan kering,sekam padi dan mesin
penabur benih
2.
Memilih benih padi yang bernas dengan
cara merendamnya kedalam air selama 1 jam dan meniriskan benih yang tenggelam
untuk dijadikan bibit
3.
Membentangkan plastik hitam pada lahan
tempat persemaian yang telah didatarkan
4.
Memasangkan kerangka kayu diatas
bentangan plastik kemudian isi dengan tanah halus diatas plastik hingga
ketebalan 2-3 cm sebagai media pertumbuhan.
5.
Memasukkan benih yang ditiriskan kedalam
bak mesin penabur benih secara merata
6.
Menempatkan kerangka benih kayu sehingga
roda mesin bergerak leluasa sepandang kerangka kayu
7.
Kemudian menjalankan mesin penabur secara
perlahan-lahan
8.
Menutup benih dengan abu sekam padi
hingga ketebalan 0,5 cm
9.
Menyiram permukaan pembibitan dengan air
secukupnya dan menghindari percikan air tidak menyebabkan padi berserakan
10.
Melakukan penyiraman secara rutin hingga
bibit siap tanam ( umur 15-20 hari ) dengan tinggi 15-20 cm
11.
Melakukan pengamatan terhadap bibit padi
yang dihasilkan meliputi ( jumlah bibit/cm ) dan tinggi bibit.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad, dkk. 2007. Peluang Usaha Jasa
Penanganan Padi Secara Mekanis Dengan Mendukung Industri Persemaian.
Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian.2008. Pengelolaan Tanman Terpadu (PTT) padi gogo. Badan Litbang Pertanian
Baehaqi, S.E. 2012. Strategi
pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam praktek pertanian yang baik (Good Agricultural
Practices). Pengembangan Inovasi Pertanian 2 (1), 2009: 65-78.
Taufik. 2010. Alsin Transplanter untuk
Pilot Project UPJA Center Efisiensikan Waktu Tanam. Dinas Pertanian Tanaman Pangan
dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan.
Suparlan,dkk. 2011. Dukungan Teknologi Pertanian Untuk Industrialisasi
Agribisnis Pedesaan. Makalah Seminar Nasional Penyuluhan Pertanian
pada Kegiatan Soropadan Agro Expo tanggal 2 Juli 2011. Balai Besar Pengembangan
Mekanisasi Pertanian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar